Terkadang saya tidak percaya dengan pernyataan-pernyataan di masyarakat yang mengatakan bahwa “orang yang baik akan cepat mati”. Bisa jadi hal itu bermula dari wafatnya nabi Muhammad sebagai Rosul umat Islam. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan rahmatanlilalamin wafat pada usia 63 tahun. Sungguh sebuah kehilangan yang sangat besar bagi umat Islam. Tetapi kehilangan itu tidak boleh mematahkan semangat dan keimanan kepada Alloh Yang Maha Esa dan kepercayaan bahwa semua makhluk hidup akan mati; tanpa melihat dia muda, tua, sakit, sehat dan seterusnya.
Kematian adalah PASTI. Kepastian kematian tidak pernah diketahui baik dengan ataupun tanpa sebab. Satu hal yang sulit dipahami jika kita mencari jawaban atas suatu kematian adalah ketika menggunakan kepala dan bukan hati. Kita sering menanyakan keputusan Tuhan; mengapa kematian terjadi?
Pertanyaan yang sama juga muncul ketika CASSA 212 yang sedang melakukan uji coba alat Digital Mapping mengalami musibah dan tidak seorang penumpangpun dapat selamat. Kejadian ini kalau dipikir bukan terjadi atas sekedar ”KEPASTIAN TUHAN”, pastilah ada sebab akibat; pasti ada penyebab mengapa pesawat yang telah sukses melaksanakan misi LATGAB di Kalimantan tiba-tiba harus tersungkur jatuh dipelukan hutan gunung Salak Bogor dan tidak menyisakan kehidupan didalamnya. Penyelidikan atas kecelakaan ini sedang dilaksanakan.
Sebagai manusia yang awam akan seluk kedirgataraan, saya tidak akan masuk ke ladang itu. Saya akan melihat kenyataan yang saya dengar, lihat, dan rasakan bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia tidak secara maksimal membantu TNI memersiapkan alutsista dan personilnya secara proporsional dan professional. Terlepas dari kenyataan bahwa anggaran belanja pertahanan yang dikurangi tahun ini, itu adalah masalah lain. Banyak diketahui bahwa perlengkapan dan peralatan TNI sudah sangat tua. Disatu sisi TNI harus tetap menjaga sikap GAGAH nya dengan mengatakan bahwa alutsista (dengan segala keterbatasannya) selalu SIAGA. Jelas ini adalah kata kata saja sementara didalamnya keropos belaka.
Salah satu bukti adalah banyaknya korban jiwa para putra terbaik TNI sebagai akibat tidak layaknya alutsista yang digunakan dalam pelaksanaan tugas. Mereka adalah korban kecerobohan birokrasi pemerintahan. Sebut saja di tahun 2008 ini; sebuah tank amphibi marinir tenggelam di Situbondo Jawa Timur, sebuah pesawat CASSA 212 AU jatuh di kaki gunung Salak. Yang terakhir ini memakan korban 18 orang; dua diantaranya adalah Mayor SUS Susika dan Lettu Feby yang juga merupakan alumnus KIBI Pusdiklat Bahasa. Mereka adalah sedikit dari sedikit personil TNI yang sangat potensial, dan professional, namun sayang semangat dan kecakapan mereka tidak diimbangi dengan professionalisme alutsista yang dipergunakan.
RN
Posted by roisnahrudin
Posted by roisnahrudin
Posted by roisnahrudin