(In Memoriam MAYOR SUSIKA n LEUTENANT FEBY)

June 30, 2008

Terkadang saya tidak percaya dengan pernyataan-pernyataan di masyarakat yang mengatakan bahwa “orang yang baik akan cepat mati”. Bisa jadi hal itu bermula dari wafatnya nabi Muhammad sebagai Rosul umat Islam. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan rahmatanlilalamin wafat pada usia 63 tahun. Sungguh sebuah kehilangan yang sangat besar bagi umat Islam. Tetapi kehilangan itu tidak boleh mematahkan semangat dan keimanan kepada Alloh Yang Maha Esa dan kepercayaan bahwa semua makhluk hidup akan mati; tanpa melihat dia muda, tua, sakit, sehat dan seterusnya.

Kematian adalah PASTI. Kepastian kematian tidak pernah diketahui baik dengan ataupun tanpa sebab. Satu hal yang sulit dipahami jika kita mencari jawaban atas suatu kematian adalah ketika menggunakan kepala dan bukan hati. Kita sering menanyakan keputusan Tuhan; mengapa kematian terjadi?

Pertanyaan yang sama juga muncul ketika CASSA 212 yang sedang melakukan uji coba alat Digital Mapping mengalami musibah dan tidak seorang penumpangpun dapat selamat. Kejadian ini kalau dipikir bukan terjadi atas sekedar ”KEPASTIAN TUHAN”, pastilah ada sebab akibat; pasti ada penyebab mengapa pesawat yang telah sukses melaksanakan misi LATGAB di Kalimantan tiba-tiba harus tersungkur jatuh dipelukan hutan gunung Salak Bogor dan tidak menyisakan kehidupan didalamnya. Penyelidikan atas kecelakaan ini sedang dilaksanakan.

Sebagai manusia yang awam akan seluk kedirgataraan, saya tidak akan masuk ke ladang itu. Saya akan melihat kenyataan yang saya dengar, lihat, dan rasakan bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia tidak secara maksimal membantu TNI memersiapkan alutsista dan personilnya secara proporsional dan professional. Terlepas dari kenyataan bahwa anggaran belanja pertahanan yang dikurangi tahun ini, itu adalah masalah lain. Banyak diketahui bahwa perlengkapan dan peralatan TNI sudah sangat tua. Disatu sisi TNI harus tetap menjaga sikap GAGAH nya dengan mengatakan bahwa alutsista (dengan segala keterbatasannya) selalu SIAGA. Jelas ini adalah kata kata saja sementara didalamnya keropos belaka.

Salah satu bukti adalah banyaknya korban jiwa para putra terbaik TNI sebagai akibat tidak layaknya alutsista yang digunakan dalam pelaksanaan tugas. Mereka adalah korban kecerobohan birokrasi pemerintahan. Sebut saja di tahun 2008 ini; sebuah tank amphibi marinir tenggelam di Situbondo Jawa Timur, sebuah pesawat CASSA 212 AU jatuh di kaki gunung Salak. Yang terakhir ini memakan korban 18 orang; dua diantaranya adalah Mayor SUS Susika dan Lettu Feby yang juga merupakan alumnus KIBI Pusdiklat Bahasa. Mereka adalah sedikit dari sedikit personil TNI yang sangat potensial, dan professional, namun sayang semangat dan kecakapan mereka tidak diimbangi dengan professionalisme alutsista yang dipergunakan.

RN


Buku Sekolah Elektronik (BSE)

June 24, 2008

Sebuah langkah besar telah dan sedang ditempuh oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk membuktikan bahwa mereka peduli dengan kualitas pendidikan nasional kita dari sisi penyiapan materi ajar bagi siswa yang dianggap tidak mampu dan tidak mempunyai kemampuan untuk mendapatkan materi ajar sesuai dengan tingkatan mereka yaitu dengan membagikan paket materi ajaran gratis kepada mereka.

Langkah ini tentu saja telah dilakukan pada masa sebelum saat ini dengan cara membagikan paket buku secara langsung kepada sekolah-sekolah yang dianggap tidak mampu mengadakan materi tersebut. Namun demikian disamping ekses negatif dari sulitnya akses distribusi, tindakan pembagian materi hardcopy justru telah memicu bagi sebagian oknum pendidik yang justru memanfaatkan kesempatan dan kemudahan yang diberikan institusi sebagai ladang baru untuk korupsi. Mereka meminta siswa untuk tetap mengganti ongkos ”ambil materi” kepada mereka; mungkin hal ini dipandang sebagai dampak logis bagi sebagian orang karena memang mengambil materi ke institusi pusat memerlukan transportasi dan ”makan siang” bagi si pengambil materi dan ”uang mereka” harus diganti meskipun materi ajar itu diperoleh gratis tis… hal ini klasik dan lagu lama yang sering kita dengar dan kita hanya memaklumi saja.

Sekarang… dengan adanya program Buku Sekolah Elektronik (BS-E) dampak-dampak diatas dimungkinkan akan terkikis dengan sendirinya. Meskipun masih ada saja oknum yang dengan ”cerdas” tetap dapat memanfaatkan fasilitas ini dengan modus operandi yang sedikit disesuaikan. Sebagai contoh siswa dikenai biaya untuk mengakses internet disekolahan karena mereka menggunakan fasilitas internet ”melebihi” jumlah jam yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Lebih dari itu, bukankah dengan akses yang cukup lama juga akan meningkatkan penggunaan energi listrik, padahal pemerintah ”memerintahkan” agar kita hemat listrik. Lama penggunaan internet ini, meskipun bukan hanya disebabkan oleh kemungkinan pengguna yang belum bisa dan terbiasa meng-akses, tetapi secara teknis bandwidth yang disediakan oleh Depdiknas tidak cukup ”jreng” untuk downloading materi yang sedemikian besar dan bervariasi. Depdiknas sudah berusaha ”mengakali” lambatnya proses download ini dengan membungkus materi dengan zip dan memilah dalam bab-bab, tetapi tetap saja untuk sambungan internet rumahan seperti dial up akan menohok penggunaan pulsa telpon rumah, belum lagi jumlah ”patahan” sambungan dengan provider internet yang akan sebentar-sebentar tulalit…. capek deh…

Oke, cukuplah rasanya saya ngrasani kelemahan Depdiknas, apa yang telah dilakukan oleh institusi ini tetap saja sebagai upaya yang cerdas dan patut diacungi jempol. Pertama, bukan hanya karena ini inisiatif yang membangun; karena siswa atau orang tua secara tidak langsung akan tahu bagaimana menggunakan fasilitas internet, tetapi juga karena mereka akan belajar bahwa internet bukanlah tempat ”maksiat” tetapi kebalikan dari itu teknologi ini telah memberikan pelajaran bahwa sekarang adalah babak baru dimana kita bisa sangat mengandalkan teknologi untuk memerangi monopoli; monopoli materi ajar yang selama ini dikuasai oleh mereka yang kurang memerhatikan rakyat kecil yang tidak mempunyai cukup uang untuk membeli buku. Kedua, bahwa dengan membeli hal cipta buku, Depdiknas telah memberikan contoh bagaimana insan kreatif dan pencipta materi diberikan penghargaan atas kemampuan mereka yang tidak selalu ada duanya. Dengan demikian upaya pemerintah mempromosikan perang terhadap pembajakan hak cipta akan tersosialisasikan. Dan, para pembajak akan merugi karena bahan jiplakan mereka tidak banyak laku. Ketiga, dalam konteks pembelajan penggunaan teknologi, Depdiknas secara tidak langsung telah mempromosikan upaya pemerintah untuk mengangkat para siswa dan orang tua untuk tidak alergi terhadap hadirnya teknologi khususnya internet dilingkungan mereka. Keempat, dari sudut ekonomi, para pengusaha kecil jasa warnet dan usaha printing akan memeroleh masukan dari konsumen yang menginginkan akses cepat.

Pada saat ini saya kira Depdiknas harus diberikan applause atas inisiatif dan upaya yang telah dilakukan untuk dapat berbuat secara nyata meningkatkan pendidikan nasional kita. Beberapa catatan misalnya lebar bandwidth harus ditambah, kelengkapan materi ajaran agar tetap diperbaiki dan dilengkapi agar pengguna dapat dengan lebih leluasa memanfaatkan materi yang disediakan. Kedepan patut dipertimbangkan untuk menampilkan contoh materi-materi Ujian Nasional agar warga yang tidak memiliki dana untuk bimbingan lolos UN tetap dapat menikmati kehadiran BSE ini. Bravo Depdiknas.

http://bse.depdiknas.go.id

RN


Nge-blog VS nge-block (bara bara…)

June 18, 2008

Terkadang saya merasa sedih (ihik..ihik.) menyaksikan rencana roadmap Badiklat yang awalnya sangat luar biasa dipikirkan dan direncanakan dengan sangat hati-hati ternyata jalannya (menurut pendapat saya) terseok-seok. sediiihhhh… Saya sendiri awalnya sangat HU HA, luar biasa semangat karena ilmu yang saya pelajari selama “semedi” di Sutralia bakalan mendapat teman dan tempat untuk aplikasi. Yach, meskipun saya tetap berkomitmen untuk terus berjuang agar selalu bermanfaat bagi lingkungan, kenyataan yang saya lihat di lapangan ternyata tidak secepat dan secermat yang saya harapkan. Dari pada terlalu panjang berkeluh kesah lebih baik saya mulai mendiskripsikan beda Nge-blog dengan Nge-block.

Nge-blog apapun medianya; wordpress, blogspot, dan sebagainya tidak menjadi masalah. Semua juga sudah tahu bagaimana membuatnya, bahkan memodifikasinya – kecuali yang memang baru ‘terhenyak’ dari ‘tidur’ mungkin belum tahu apa dan bagaimana blog itu. Itu masalah lain. Iya tho!

Setelah semua punya blog sendiri-sendiri, bahkan ikut lomba, dan menang (dalam pandangan Kabadan roadmap Badiklat sudah mulai roll on lagi karena staf di lingkungan kerja badiklat sudah banyak yang menggunakan salah satu bagian kecil ICT ini- dan ini SEBUAH KEMAJUAN). Ya Tuhan…. saya sangat bersyukur mempunyai komandan yang sedemikian sabar membesarkan hati anak buahnya.

Ok, lanjut lagi…setelah semua punya blog, semua dapat saling melihat, mengisi rumah dengan berbagai furnitur favoritnya, berusaha membuat pembaca terkesan, mencari pengunjung, membaca, mendengar, bertanya, posting, waiting…waiting…responding…menjawab…waiting….dan seterusnya hingga akhirnya semuanya sibuk tidak ada waktu…hingga akhirnya semuanya saling mengunggu…menunggu…gagu…ndak tahu…nulis apa lagi… kesian…. itulah akibat dari nge-blog yang nge-block alias berhenti. Sudah tidak  menarik dan tertarik lagi, sudah tidak dikejar-kejar lagi, sudah tidak dilombakan lagi, sudah tidak ditengokin lagi…hehehehe…. rupanya kita masih saja ABS (Asal Bapak Senang) ya..? Kesian…

Kalau begitu adanya mbok iya’o membuka wawasan, cari tahu bagaimana memanfaatkan blog anda untuk media belajar mengajar (instruktur) yang bukan instruktur ya bikin kelompok sendiri atau bergabung dengan blognya instruktur biar ketularan ilmunya gitu to…..

Jadi kenapa nge-blog jadi nge-block ya karena belum menghayati peran blog untuk membantu proses pengajaran, karena nggak tahu musti ngajar apa lewat blog, gimana meng-handlenya dst. Kalau dengan blog yang manajemennya lebih handy saja kita nggak mampu me-menej maka saya (moga-moga keliru) pesimis jika program LMS (Learning Management System) dengan  INTRANET bakalan menunai angin.  LMS dengan INTRANET membutuhkan bukan hanya  keahlian mengoperasionalkan alat peralatan , tetapi kekayaan materi  juga menjadi unsur utama yang harus dipenuhi… sampai dimana kita?!

Saran saya… BANGKIT…BANGKIT dari rasa  nggak tahu dan nggak mau tahu…cari tahu…,  BANGKIT…BANGKIT dari rasa di suruh  mulu… inisiatif, kreatif, enjoy, nikmati, hayati peran mu…, BANGKIT…BANGKIT dari perbudakan buku  paket mengajar… bereksperimen, berani  salah, perbaiki, jalan lagi, terus, berpikir OUT OF THE BOX…Kreasi… BANGKIT…BANGKIT dari harga mati gaji… biar…nanti juga naik sendiri, terus berkreasi jangan hanya berharap tambahan upeti….yang belum tentu diberi… BANGKIT…BANGKIT…jangan minta melulu, bukankah tangan diatas lebih baik dari pada yang dibawah… KREASI = REJEKI.

Semoga berkenan