Dear Charlians
Please translate this article into Indonesian.
Asymmetric warfare and terrorism
There are two different viewpoints on the relationship between asymmetric warfare and terrorism. In the modern context, asymmetric warfare is increasingly considered a component of fourth generation warfare. When practiced outside the laws of war, it is often defined as terrorism, though rarely by its practitioners or their supporters.[5]
The other view is that asymmetric warfare does not coincide with terrorism. For example, in an asymmetric conflict, the dominant side, normally as part of a propaganda campaign, can accuse the weaker side of being bandits, pillagers or terrorists. Others argue that asymmetric warfare is called “terrorism” by those wishing to exploit the negative connotations of the word and bring the political aims of the weaker opponents into question. A problem associated with such a view is that the distinction between a terrorist and a freedom fighter is not clear cut. An example of this is over Kashmir: the Pakistanis claim that a war of freedom for the Kashmiris is being fought with the Indians, who in turn, label them as terrorists. The Iraqi insurgency is similarly labeled as terrorism by its opponents and resistance by its supporters.[6]. Similarly the use of terror by the much lesser Mongol forces in the creation and control of the Mongol empire could be viewed as asymmetric warfare. The other is the use of state terrorism by the superior Nazi forces in the Balkans, in an attempt to suppress the resistance movement.
(http://en.wikipedia.org/wiki/ Asymmetric_warfare )
Put your Rank/Name/Class on the top left corner of your work. If you do not have your own ID then use Anonymous to submit your work.
Your work should be submitted NLT 18 September 2009 at 15.00 Hrs
Thank you
September 9, 2009 at 12:01 AM
A.W.Nasution/First Lieutenat/C Class
Perang asimetris dan terorisme
Ada dua sudut pandang yang berbeda mengenai hubungan antara perang asimetris dan terorisme. Dalam konteks modern, perang asimetris semakin dianggap sebagai komponen dari peperangan generasi keempat. Ketika berlatih di luar hukum perang, sering didefinisikan sebagai terorisme, meskipun jarang oleh praktisi atau para pendukung mereka. [5] Pandangan lain adalah bahwa peperangan asimetris tidak samaa dengan terorisme. Sebagai contoh, dalam konflik asimetris, sisi yang dominan, biasanya sebagai bagian dari kampanye propaganda, bisa menuduh sisi yang lebih lemah menjadi bandit, pillagers atau teroris. Lain berpendapat bahwa perang asimetris disebut “terorisme” oleh mereka yang ingin memanfaatkan konotasi negatif dari kata dan membawa tujuan-tujuan politik lawan-lawan yang lebih lemah dipertanyakan. Masalah yang terkait dengan pandangan seperti ini adalah bahwa perbedaan antara teroris dan pejuang kemerdekaan tidak jelas. Sebuah contoh dari hal ini adalah wilayah Kashmir: Pakistan mengklaim bahwa perang kebebasan bagi Kashmir sedang bertempur dengan orang Indian, yang pada gilirannya, label mereka sebagai teroris. Pemberontakan Irak juga sama dicap sebagai terorisme oleh lawan-lawannya dan perlawanan oleh para pendukungnya. [6]. Demikian pula penggunaan teror oleh pasukan Mongol jauh lebih rendah dalam penciptaan dan kontrol kekaisaran Mongol dapat dilihat sebagai perang asimetris. Yang lain adalah penggunaan terorisme negara oleh pasukan Nazi yang unggul di Balkan, dalam upaya untuk menekan gerakan perlawanan.
September 9, 2009 at 8:04 PM
First Leautenant I Wayan Agus S A
Class C ( KIBIANS )
Perang Asimetrik dan Paham Teroris
Ada dua perbedaan pandangan yang berhubungan antara perang asimetrik dan paham teroris. Dalam konteks modern, perang asimetrik adalah perang yang terjadi pada peperangan generasi keempat. Ketika dipraktekan diluar hukum peperangan, hal ini sering didefinisikan sebagai teroris, kekerasan yang dilaksanakan oleh si pelaku atau para pendukungnya. Dalam pandangan yang lain mengatakan bahwa perang asimetrik tidak ada hubungannya dengan teroris. Sebagai contoh, dalam konflik asimetrik, hal yang paling dominan, adalah sebagai alat persaingan dalam propaganda, menuduh kaum yang lemah sebagai penjahat atau bandit, penjarah bahkan teroris. Pendapat lainnya, perang asimetrik dapat dikatakan sebagai “teroris” dengan harapan sebagai konotasi negatif terhadap mereka dan membawa kepentingan politik bagi pihak lawan. Masalah yang terjadi akibat hal itu adalah ketidakjelasan antara para pelaku teroris dengan pejuang kemerdekaan. Sebuah contoh dalam hal ini adalah negara Kashmir : Warga negara Pakistan yang menuntut kemerdekaan Kashmir sehingga terjadi konflik dengan Pemerintah India, siapa yang terlibat, mereka dicap sebagai teroris. Para pejuang Irak disamakan sebagai teroris oleh pihak lawan dan ditentang oleh pendukungnya. Hal yang sama digunakan oleh Angkatan Bersenjata Mongolia dalam menciptakan kondisi dan mengontrol pemerintahan bisa dikatakan sebagai perang asimetrik. Di lain pihak, pemerintahan teroris yang dilaksanakan oleh Pasukan Pemerintah Nazi di Negara Balkan, dalam penindasan kepada pergerakan yang melakukan perlawanan.
September 10, 2009 at 4:14 PM
Captain Zulfikri Arif Purba/”C” Class
Perang Asimetris dan terorisme
Ada 2 perbedaan sudut pandang yang berhubungan antara perbedaan perang asimetris dan Terorisme. Pada era modern, perang asimetris adalah perang yang dikembangkan melalui komponen dari Generasi perang keempat.Ketika dipraktekkan diluar hukum perang, hal ini sering didefinisikan sebagai gerakan terrorisme. hal ini justru sangat jarang terpikir oleh pelakunya ataupun orang-orang yang mendukung gerakan tersebut.
berdasarkan sudut pandang yg lain berpendapat bahwa perang asimetris sama dengan terorisme sebagai contoh pada konflik asimetris,hal yang dominan adalah bagian dari kampanye propaganda yang dapat menuduh orang yang lemah sebagai penjahat,penjarah atau terroris. Pendapat lain menyatakan bahwa perang asimetris disebut juga “terrorisme”,dengan tujuan untuk memanfaatkan pengertian yang negative dari kata “terorisme” tersebut dan membawa tujuan politik untuk melawan orang yang lemah sehingga menimbulkan sebuah pertanyaan. Sebuah masalah timbul seperti yang diuraikan melalui berbagai sudut pandang bahwa perbedaan antara teroris dan pejuang kebebasan tidak begitu jelas . sebagai contoh diwilayah kashmir, orang-orang Pakistan menyatakan bahwa perang kebebasan untuk kasmir sedang dilakukan dengan india, siapa yang bisa mengatakan bahwa gerakan tersebut sebagai tindakan terorisme. Pemberontak Iraq juga dianggap sebagai teroris oleh lawan-lawannya namun masih tetap bertahan dengan para pendukungnya. hal yang sama dilakukan oleh kebanyakan tentara lesser msiapaongol dimana mereka menggunakan teroris dalam membentuk dan mengontrol kekaisaran mongol dapat juga disebut sebagai perang asimetris. Lainnya adalah penerapan pemerintahan teroris melalui kekuatan tentara nazi di Balkan,dalam sebuah percobaan untuk menekan gerakan dan perlawanan.
September 10, 2009 at 4:52 PM
First Leutenant Faizal Imam/ “C” Class
Perang Asimetris dan Terorisme
Terdapat dua sudut pandang terhadap hubungan antara Perang Asimetris dengan Terorisme. Dalam konteks modern, Perang Asimetris adalah menigkatnya komponen dari peperangan generasi keempat. Pada saat diaplikasikan diluar hukum perang, hal ini sering kali didefinisikan sebagai terorisme, terkadang dilakukan oleh para pelaku dan pendukungnya. Pendapat lain mengatakan bahwa Perang Asimetris tidak sama dengan Terorisme. Sebagai contoh, dalam konflik Asimetris, bagian yang yang dominan, biasanya menyusun propaganda, menuduh bagian yang lemah sebagai pelanggar hukum, perampas atau teroris. Pendapat lain mengatakan Perang Asimetris adalah Terorisme, dengan memanfaatkan sisi negatif dari pemberitaan untuk kepentingan politik lawan. Masalah yang berkaitan dengan hal ini adalah ketidak jelasan antara Teroris dengan Pejuang Kemerdekaan. Sebuah contoh adalah Kashmir : Pakistan menyatakan bahwa perang kemerdekaan Kashmir adalah perlawanan terhadap India, yang terlibat dianggap sebagai teroris. Para pemberontak Irak dianggap sebagai teroris oleh lawan mereka. Demikian juga dengan penggunaan teror oleh Angkatan Bersenjata Mongol yang lebih rendah, dalam mengatur pemerintahan dapat dikatakan sebagai Perang Asimetris. Selain daripada itu adalah pemerintahan terorisme yang dilakukan pemimpin Nazi di Negara Balkan, dalam upaya menumpas pemberontakan.
September 10, 2009 at 4:57 PM
Faizal Imam Muharam
First Leutenant
C Class
Perang Asimetris dan Terorisme
Terdapat dua sudut pandang terhadap hubungan antara Perang Asimetris dengan Terorisme. Dalam konteks modern, Perang Asimetris adalah menigkatnya komponen dari peperangan generasi keempat. Pada saat diaplikasikan diluar hukum perang, hal ini sering kali didefinisikan sebagai terorisme, terkadang dilakukan oleh para pelaku dan pendukungnya. Pendapat lain mengatakan bahwa Perang Asimetris tidak sama dengan Terorisme. Sebagai contoh, dalam konflik Asimetris, bagian yang yang dominan, biasanya menyusun propaganda, menuduh bagian yang lemah sebagai pelanggar hukum, perampas atau teroris. Pendapat lain mengatakan Perang Asimetris adalah Terorisme, dengan memanfaatkan sisi negatif dari pemberitaan untuk kepentingan politik lawan. Masalah yang berkaitan dengan hal ini adalah ketidak jelasan antara Teroris dengan Pejuang Kemerdekaan. Sebuah contoh adalah Kashmir : Pakistan menyatakan bahwa perang kemerdekaan Kashmir adalah perlawanan terhadap India, yang terlibat dianggap sebagai teroris. Para pemberontak Irak dianggap sebagai teroris oleh lawan mereka. Demikian juga dengan penggunaan teror oleh Angkatan Bersenjata Mongol yang lebih rendah, dalam mengatur pemerintahan dapat dikatakan sebagai Perang Asimetris. Selain daripada itu adalah pemerintahan terorisme yang dilakukan pemimpin Nazi di Negara Balkan, dalam upaya menumpas pemberontakan.
September 11, 2009 at 10:33 PM
Perang Asimetris dan Terorris
Dalam istilah modern ada perbedaan sudut pandang antara perang asimetris dan terroris, dalam perkembangan ilmu perang , ilmu perang terbagi menjadi empat generasi peperangan. Diluar ilmu perang, perang asimetris sering di definisikan sebagai gerakan terorris, dan jarang terpikir bagi orang – orang yang melaksanakan dan pendukungnya bahwa hal itu dianggap sebagai gerakan teroris. Menurut pendapat lain menyatakan bahwa perang asimetris tidak sama dengan gerakan teroris, sebagai contoh timbulnya perselisihan (konflik) karena propaganda, akibatnya orang – orang yang lemah pun bisa di tuduh sebagai seorang pemberontak atau teroris. Ada Pendapat lain dari konotasi negative yang mengeksploitasi bahwa teroris adalah perang asimetris yang menjadikan sebuah pertanyaan dalam tujuan politik. Masalah yang terjadi adalah ketidakjelasan perbedaan antara pejuang kemerdekaan dan teroris, sebagai contoh di Pakistan, para pejuang Kashmir yang menuntut kemerdekaan dari Negara India, dan mereka di sebut teroris. Para pejuang Irak disamakan sebagai teroris oleh pihak lawan dan ditentang oleh pendukungnya. Hal yang sama digunakan oleh Angkatan Bersenjata Mongolia dalam menciptakan kondisi dan mengontrol pemerintahan bisa dikatakan sebagai perang asimetris. Di lain pihak, pemerintahan teroris yang dilaksanakan oleh Pasukan Pemerintah Nazi di Negara Balkan, dalam penindasan kepada pergerakan yang melakukan perlawanan.
September 12, 2009 at 1:23 AM
Capatain (T) Achmad / “C” Class
Peperangan Asymetrik dan Terorisme
Terdapat perbedaan sudut pandang antara perang Asymetrik dan Terorisme.Dalam konteks modern, perang asymetrik adalah peningkatan kemampuan penggunaan komponen dari peperangan generasi keempat. Pada saat diterapkan diluar hukum perang, perang asymetrik diartikan seperti terorisme, terkadang dijalankan oleh para pelaku dan pendukung terorisme. Menurut pendapat lain perang asymetrik tidak sama dengan terorisme, sebagai contoh munculnya konflik asymetrik, bagian yang dominan adalah penyebaran propaganda, sehingga bagian yang lemah akan dianggap sebagai pelanggar hukum, pemberontak atau teroris. Ada pendapat lain mengatakan bahwa perang asymetrik sama dengan terorisme, dengan memanfaatkan sisi negatif untuk kepentingan politik lawan. Masalah yang timbul adalah ketidakjelasan antara teroris dengan pejuang kemerdekaan. Sebagai contoh di Kashmir, para pejuang Pakistan di kashmir menyatakan bahwa kemerdekaan Kashmir adalah perlawanan terhadap India, dan mereka disebut teroris. Para pemberontak di Irak dianggap sebagai teroris oleh lawan dan pejuang bagi pendukungnya.Demikian juga dengan penggunaan teror di Angkatan Bersenjata Mongolia dalam mengatur pemerintahan dapat disamakan dengan perang asymetrik. Selain itu penggunan terorisme yang dilakukan oleh pasukan pemerintahan Nazi di Balkhan, dalam upaya menumpas pemberontakan.
September 14, 2009 at 6:03 AM
Lt.Tyas Maladinatania/”C” Class
Ada dua sudut pandang yang berbeda antara perang asimetrik dan terorisme. Dalam konteks moderen, perang asimetric merupakan perang generasi keempat. Ketika perang asimetrik diterapkan di luar konteks hukum perang sering digambarkan sebagai gerakan terorisme walaupun hal tersebut jarang dilakukan oleh si pelaku dan para pendukungnya.
Sudut pandang lainnya mengatakan bahwa perang asimetrik tidak dapat disamakan dengan terorisme, sebagai contoh dalam suatu konflik asimetrik, pihak yang dominan pada umumnya menjadi bagian dalam suatu propaganda yang dapat mengatakan bahwa pihak yang lemah (minoritas) sebagai bandit, perampok atau teroris. Pendapat lainnya mengatakan bahwa perang asimterik sama dengan terorisme dengan memanfaatkan makna negati dari “terorisme” itu sendiri dan mempertanyakan tujuan politik dari pihak yang lemah. Permasalahan yang sama timbul seperti halnya dalam memandang ketidakjelasan antara teroris dan pejuang kemerdekaan. Sebagai contoh apa yang terjadi di Khasmir, pihak Pakistan mengklaim bhawa perang kemerdekaan yang dilakukan oleh orang-orang Kashmir dalam melawan India disebut sebagai pejuang kemerdekaan, namun sebaliknya pihak India menyebut merka (Pejuang Kashmir) sebagai teroris. Pemberontak di Irak oleh para pendukungnya disebut sebagai pejuang kemerdekaan oleh para pendukungnya namun bagi lawan-lawannya mereka adalah teroris. Sama halnya penggunaan teror oleh sebagian besar angkatan bersenjata Mongol dalam menciptakan dan mengontrol kekaisaran Mongol dimana hal tersebut dapat juga didefinisikan sebagai perang asimetrik. Selain itu,penggunaan terorisme negara oleh pasukan Nazi di Balkan untuk menekan gerakan pemberontak.
September 14, 2009 at 11:16 PM
Major Jonny. /“C” class
Perang tidak berimbang dan Terrorisme
Ada dua pendapat berbeda tentang kaitan perang tidak berimbang dan aksi terrorisme. Dalam konteks modern, perang tidak seimbang dianggap sebagai bagian dari perang generasi ke-empat. Bila mengacu pada hukum perang, sering dianggap sebagai aksi terrorisme, meskipun tidak demkian halnya bagi para pendukungnya. (5)
Pendapat lain mengatakan bahwa perang tidak berimbang tidak sama dengan aksi terrorisme, misalnya dalam konflik tidak seimbang, bagi pihak yang kuat, diterapkan sebagai bagian dari perang propaganda dengan menuduh pihak lain sebagai penjahat, penjarah atau terroris. Untuk sebutan lainnya, perang tidak seimbang disebut sebagai aksi terrorisme bagi pihak yang ingin menanamkan konotasi negatif untuk tujun politik dan bagi pihak yang lebih lemah tidak bisa menerima.Menjadi persoalan sedemikian rupa bahwa perbedaan pandangan antara seorang terroris dan pejuang pembebasan menjadi tidak jelas. Misalnya persoalan Kashmir, oleh Pakistan dinyatakan siapa yang patut disebut terroris, apakah pejuang pembebasan Kashmir atau pihak India. Perang Irak pun dianggap sebagai terroris oleh pihak musuh dan hal ini tidak diterima rakyat pendukungnya.(6) Hal yang sama dalam penggunaan kurang lebih aksi-aksi teror oleh pasukan Mongolia dalam mengendalikan dan mengawasi kekaisaran Mongol dapat dipandang merupakan perang tidak berimbang. Pada kasus lain, penggunaan terrorisme negara oleh pasukan Nazi Jerman di Balkan dalam upaya menekan gerakan-gerakan perlawanan.
September 14, 2009 at 11:18 PM
Ltn Yoyok Eko A. / “C” class
Peperangan asimetri dan terorisme
Ada dua perbedaan pendapat antara peperangan asimetri dan terorisme. Dalam konteks modern, berkembangnya peperangan asimetri dianggap sebagai bagian dari peperangan generasi ke-4. Apabila diperhatikan diluar hukum perang, sering didefinisikan sebagai terorisme, walaupun tidak bagi para pelakunya atau para pendukungnya.[5]
Pandangan yang lain mengatakan bahwa peperangan asimetri tidak sama dengan terorisme. Contohnya, pada konflik asimetri, pihak yang lebih kuat, karena bagian dari kampanye propaganda, menuduh pihak yang lebih lemah sebagai penjahat, penjarah atau teroris. Pendapat lain mengatakan bahwa peperangan asimetri disebut sebagai terorisme oleh pihak yang ingin memanfaatkan konotasi negative dari kata tersebut dan membuat tujuan politik pihak yang lebih lemah menjadi tidak jelas. Masalah yang timbul karena pandangan tersebut adalah perbedaan antara seorang teroris dan pejuang kemerdekaan menjadi tidak jelas. Contohnya di Kashmir; orang Pakistan menyatakan bahwa perang kemerdekaan bagi Kashmir yang masih berjalan dengan orang Indian, tidak dapat ditentukan siapakah yang sebagai teroris. Pemberontakan irak dianggap seperti terorisme bagi musuhnya dan tidak bagi pendukungnya.[6]. Sama halnya dengan penggunaan terror oleh beberapa pasukan mongol dalam mengendalikan dan mengawasi kekaisaran mongol, dapat dianggap sebagai peperangan asimetri. Hal yang lainnya seperti penggunaan terorisme suatu Negara oleh pemimpin pasukan Nazi di Balkan dalam menekan gerakan perlawanan
September 16, 2009 at 2:07 PM
Penda TK.I / Muhammad Adi Wibowo / Kibi ”C” Class
Perang Tidak Berimbang dan Terorisme
Terdapat dua perbedaan pendapat tentang hubungan antara perang yang tidak berimbang dan terorisme. Dalam konteks modern, perang tidak berimbang sangat dianggap sebagai bagian dari perang generasi keempat. Ketika dilihat dari prosedur yang ada pada hukum perang, sering dianggap sebagai aksi terorisme, meskipun tidak demikian halnya bagi para pendukungnya.(5)
Pendapat lain mengatakan bahwa perang tidak berimbang tidak sama dengan aksi terorisme. Misalnya dalam konflik tidak seimbang, bagi pihak yang mendoiminasi, umumnya diterapkan sebagai bagian dari Kampanye propaganda dengan menuduh pihak musuh sebagai penjahat, penjarah atau teroris.
Untuk pendapat lainnya perang tidak seimbang disebut aksi terorisme bagi pihak yang ingin menanamkan konotasi negatif untuk tujuan politik dan bagi pihak yang lebih lemah tidak bisa menerima.
Menjadi persoalan sedemikiannya bahwa perbedaan pandangan antara seorang teroris dan pejuang pembebasan menjadi tidak jelas. Misalnya persoalan Khasmir, oleh Pakistan mengakui bahwa perlawanan dengan pihak India adalah perang kemerdekaan bagi pihak Kasmir.
Pihak Pemberontak Irak di cap sama sebagai teroris oleh rakyat pendukungnya(6). Kesamaan juga terlihat pada penggunaan aksi teror oleh pasukan Monggol untuk menciptakan pengendalian dan pengawasan kepada kekaisaran Mongolia dapat dipandang sebagai perang tidak berimbang. Pada kasus lain negara terorisme yaitu Penggunaan pasukan nazi Jerman di Balkan, dalam upaya untuk menggunakan gerakan-gerakan perlawanan.
September 16, 2009 at 9:03 PM
Peperangan Asimetrik dan Paham Teroris.
Terdapat dua perbedaan pandang tentang hubungan antara perang asimetrik dan gerakan terorisme. Dalam zaman moderen saat ini, perang asimetric dianggap merupakan bagian dari peperang generasi keempat. Ketika perang asimetrik yang diterapkan tidak berdasarkan hukum perang yang berlaku, gerakan tersebut sering disebut sebagai gerakan terorisme walaupun hal tersebut jarang dilakukan oleh si pelaku dan para pendukungnya.
Pendapat lainnya mengatakan bahwa perang asimetrik tidak dapat disamakan dengan gerakan terorisme. Sebagai contoh dalam suatu konflik perang asimetrik, pihak yang dominan pada umumnya menjadi bagian dalam suatu kampanye propaganda yang dapat menyatakan bahwa pihak yang lemah (minoritas) sebagai bandit, perampok atau teroris. Pendapat lainnya mengatakan bahwa perang asimterik sama dengan gerakan terorisme dengan membesar-besarkan makna negatif dari “terorisme” itu sendiri dan mempertanyakan tujuan politik terhadap pihak yang lemah. Permasalahan yang sama timbul seperti halnya dalam memandang ketidakjelasan antara teroris dan pejuang kemerdekaan. Sebagai contoh apa yang terjadi di Khasmir, pihak Pakistan mengklaim bhawa perang kemerdekaan yang dilakukan oleh orang-orang Kashmir dalam melawan India disebut sebagai pejuang kemerdekaan, namun sebaliknya pihak India menyebut mereka (Pejuang Kashmir) sebagai teroris. Pemberontakan di Irak bagi lawan-lawannya mereka adalah teroris namun oleh para pendukungnya disebut sebagai pejuang kemerdekaan. Sama halnya dengan terror yang dilakukan oleh sebagian angkatan bersenjata Mongol dalam menciptakan dan mengendalikan kekaisaran Mongol juga didefinisikan sebagai perang asimetrik. Selain itu, gerakan terorisme yang dilakukan oleh pasukan Nazi di Balkan, adalah merupakan usaha untuk menekan gerakan pemberontak.