Lomba webquest WI Badiklat dan implikasinya

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Rabu, 04 Pebruari 2009 di Pusdiklat Jemen Han Pondok Labu dilaksanakan pemaparan lomba pembuatan webquest bagi para widyaiswara di lingkungan kerja Badiklat Dephan. Saya kebetulan menjadi salah satu anggota dewan juri dalam kegiatan tersebut.

Dari peserta yang telah mendaftar dan tersaring oleh staf Badiklat sebelumnya, muncul l4 widyaiswara yang di “prediksikan” mampu mewakili karya rekan WI yang lain untuk menampilkan materi mereka. Ada sebuah pertanyaan usil mengapa  jumlah peserta lomba  webquest ini didominasi oleh widyaiswara Pusdiklat Bahasa,  sementara Pudiklat Jemen Han, Pusdiklat Tekfung Han dan Set Badiklat mengirimkan pesertanya secara terbatas. Siapa yang mau menjawab? Saya juga “no comment”.

Secara keseluruhan pemaparan materi webquest oleh para instruktur ini cukup menarik untuk diikuti dan bahkan boleh dikatakan melebihi apa yang mungkin diharapkan oleh institusi. Sebagai contoh seorang peserta telah berhasil memodifikasi template sederhana webquest menjadi sebuah media yang sangat kompleks dengan menampilkan fitur media. Hal ini terjadi karena dalam pembuatan webquest seorang widyaiswara harus dapat mengawinkan antara materi pembelajaran dan metode pengajaran. Untuk dapat melakukan hal ini, seorang instruktur dituntut untuk memahami secara benar apa, untuk apa dan bagaimana “kendaraan” webquest ini.

Selain dari apa yang disampaikan diatas masih ada ruang untuk perbaikan dan pengembangan kedepan dengan melihat bahwa masih banyak peserta (widyaiswara secara umum) yang belum memahami secara utuh maksud dari template webquest, sehingga hasilnya sangat bervariasi. Secara umum ketidak seragaman pemahaman tersebut berakar pada terbatasnya pengetahuan perihal apa, untuk apa dan bagaimana webquest ini harus di gunakan. Hal ini masih ditambah dengan permasalahan teknis design, interaktifitas, dan aksesibilitasnya.

Oleh sebab itu, saya menyarankan agar dilaksanakan workshop teknis pemanfaatan webquest dihubungkan dengan metodologi pengajaran di lingkungan Badiklat. Open source ini meskipun sederhana, namun cukup menarik untuk dimanfaatkan terutama jika kita ingin menjadikan sisfo badiklat sebagai intranet pembelajaran. Webquest karya para widyaiswara dapat dijadikan sebagai resources bagi instruktur terkait untuk menyertakan siswanya dalam pembelajaran melalui teknologi. Disamping itu, hal ini juga sudah menjadi salah satu alternatif jalan keluar bagi sulitnya mencari bahan ajaran online yang orisinil dan bebas dari hukum copyrights.

Bagaimana menurut anda?

3 Responses to “Lomba webquest WI Badiklat dan implikasinya”

  1. sutrimo Says:

    Menurut hemat saya, di antara para masih banyak yang belum mengetahi secara benar apa itu webquest, dan bahkan di antaranya ada yang belum nmengetahui secara tepat apa itu situs, sehingga ketika menulis nama situs dia ubah seenaknya sendiri. Berabe jadinya, sayangnya ketika diberi tahu ya sedikit ngeyel, menurut pengertiannya, situs itu judul suatu tulisan saja. hahahaha.. Maklum saja, itu memang masih dianggap barang baru. Tapi terlepas dari segala kekuarangannya, harus diacungi jempol, mereka sudah berbuat maksimal jauh di atas apa yang mereka peroleh selama ini. Saya salut, mereka dapat melakukan inovasi yang attractive.. Kalau kurang-kurang sedikit, ya namanya proses belajar. Beda kan tentunyan yang sudah mendapat kesempatan belajar, hingga mencapai gelar magister bidang aplikasi komputer dalam belajar. Yah sekali lagi, selamat, dan heeeebaaaaat untuk mereka..
    Salam, dari Sutrimo

  2. henrimahyudi Says:

    Selamat siang bang? Apakabrnya? Sudah lama nih ga kedengaran suaranya. Sekarang saya sudah di Batujajar bang. Mengabdi di Pusdik. Ingin saya belajar banyak dari abang untuk menguasai IT. Agar dapat diberikan juga kepada rekan-rekan prajurit. Mudah2an abang ada waktu untuk membaca dan meluangkan sedikit waktu untuk berbagi ilmu. Apalagi ada ilmu aneh lagi nih “webquest” secara pribadi saya belum tahu apalagi neh binatangnya!!!!!!!!!!

    Mohon dibantu untuk mengembangkanilmu yang bermamfaat bang! Blog yang kemaren kita buat di Griya bandung sampai sekarang saya ga bisa buka. Emang dasar kampungan kali bang ya

  3. roisnahrudin Says:

    Selamat datang didunia pengajaran Hen,
    Tidak ada ketidak-biasaan yang kampungan, emangnya orang kampung pada oon-oon, kan nggak juga. Mungkin hanya karena kesempatan dan waktu yang belum cukup untuk dapat menguasai apa yang ingin dikuasai.
    Perlu diingat bahwa teknologi dalam dunia pendidikan tidak akan menggantikan peran instruktur di kelas. Teknologi berfungsi sebagai alat bantu, penolong, pemotivasi dan pengembang. Khusus sebagai pengembang, teknologi menjadikan intensitas belajar mengajar tidak tehalang oleh ruang dan waktu. Belajar menjadi lebih luwes dan fleksibel.
    Tentang webquest silahkan klik situs ini:
    http://www.webquest.org/index.php
    Pendeknya webquest itu seperti susunan rencana pengajaran (RPP). Ok nanti kita sambung lagi kalo dah masuk ke situs diatas itu ya. Thank you.

Leave a Reply